Menu

Mode Gelap

Health

Ketindihan Sering Dikaitkan Hal Mistis, Begini Penanganannya


					Ilustrasi. Foto : Alodokter Perbesar

Ilustrasi. Foto : Alodokter

LIKEIN, PALU – Fenomena ketindihan sering kali dikaitkan dengan hal-hal mistis. Padahal, fenomena ini dapat dijelaskan secara medis dan diatasi dengan penanganan yang tepat. 

DiKutip dari Alodokter, Selasa 12 April 2022, ketindihan atau yang secara medis dikenal dengan istilah sleep paralysis, adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu berbicara atau bergerak saat terbangun dari tidur atau ketika akan tidur.

Kondisi ini biasanya berlangsung selama beberapa detik hingga beberapa menit.

Ketindihan dapat dialami oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Namun, fenomena ini lebih berisiko dialami oleh orang yang memiliki kondisi tertentu, seperti insomnia, gangguan cemas bahkan gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

Selain itu, ada faktor lain yang dapat tingkatkan risiko seseorang alami ketindihan, di antaranya faktor usia, faktor keturunan, kurang tidur atau pola tidur tidak teratur, kram kaki pada malam hari, dan penyalahgunaan obat-obatan.

Jenis-Jenis Ketindihan dan Proses Terjadinya Secara Umum

Ketindihan dapat terbagi menjadi dua jenis, yaitu hypnopompic sleep paralysis dan hypnagogic sleep paralysis. Berikut ini adalah penjelasannya:

Hypnopompic sleep paralysis
Saat tidur, tubuh akan mengalami dua fase, yaitu fase NREM (non-rapid eye movement) dan REM (rapid eye movement).

Baca Juga :   Imbauan Keras, Tidak Memburu Ikan Dilindungi

Fase NREM ditandai ketika tubuh mulai terasa lebih rileks dan mata pun mulai terpejam. Setelah itu, fase ini akan beralih ke fase REM.

Ketika fase REM dimulai, mata akan bergerak cepat dan mimpi akan muncul. Seluruh otot tubuh pun tidak aktif sehingga tidak bisa digerakkan.

Nah, fenomena ketindihan terjadi bila Anda terbangun pada fase ini.

Akibatnya, otak tidak siap untuk mengirimkan sinyal bangun sehingga tubuh sulit digerakkan, tetapi Anda sudah membuka mata dan tersadar.

Saat mengalami ketindihan, Anda akan merasakan adanya tekanan sehingga membuat Anda sulit bernapas. Tidak jarang pula muncul sensasi lain, misalnya merasa ada sosok lain di dekatnya. Kondisi ini merupakan jenis halusinasi yang sering kali menyertai fenomena ketindihan.

Hypnagogic sleep paralysis
Berbeda dengan hypnopompic sleep paralysis yang terjadi dari fase tidur ke fase bangun, hypnagogic sleep paralysis terjadi dari fase bangun ke fase tidur.

Saat menjelang tidur, tubuh secara perlahan akan kehilangan kesadarannya. Orang yang mengalami hypnagogic sleep paralysis seakan-akan masih tersadar sehingga masih dapat merasakan hal-hal di sekitarnya, tetapi tidak dapat berbicara atau menggerakkan tubuh.

Cara Mencegah dan Mengatasi Ketindihan
Setiap orang memiliki kemungkinan mengalami ketindihan.

Tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Ada yang mengalami ketindihan 1–2 kali saja seumur hidup, tetapi ada juga yang mengalaminya beberapa kali dalam satu bulan atau bahkan lebih sering.

Baca Juga :   Jepang Perketat Aturan, Mulai 2024 Turis dari Indonesia Harus Tes TBC

Meski demikian, ada beberapa cara yang dapat di  lakukan untuk mencegah ketindihan, antara lain:

Memastikan waktu tidur yang cukup, yaitu sekitar 6–8 jam setiap malamnya,Menciptakan lingkungan tidur yang nyaman,Menghentikan penggunaan gadget minimal 1 jam sebelum tidur,Membiasakan diri untuk tidur dan bangun pada jam yang sama secara teratur.

Menerapkan pola hidup sehat juga dapat mengurangi risiko terjadinya sleep paralysis, seperti berolahraga secara teratur, mengurangi konsumsi kafein dan minuman beralkohol, serta menghentikan kebiasaan merokok.

Tanda-Tanda Ketindihan yang Perlu Diwaspadai

Kelumpuhan saat tidur sering kali menghilang dengan sendirinya dan tidak membutuhkan penanganan khusus. Namun, segera periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami hal-hal seperti ini.

Rasa cemas atau khawatir berlebihan,Tubuh terasa lemas dan lelah sepanjang hari, dan Tidak tidur semalaman.

Dokter biasanya akan mengatasi kondisi tersebut dengan pemberian obat antidepresan.

Namun, penggunaan obat-obatan ini hanya boleh dilakukan sesuai petunjuk dan di bawah pengawasan dokter.

Nah, sekarang kita sudah mengetahui penjelasan secara medis dari fenomena ketindihan. Jauh dari kesan mistis, kan? Jadi, kita tidak perlu takut lagi.

Meski begitu, jika ketindihan masih terus Anda alami, semakin sering, dan dirasa sangat mengganggu, konsultasikan ke dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. (Angel)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Indonesia Naik Delapan Peringkat di Ranking FIFA Setelah Menang atas Vietnam, Kini Tempati Posisi 134 di Dunia!

5 April 2024 - 17:08

Kesan Ketum Koni Pusat saat Mengunjungi Stable Equestrian Pertama di Sulteng

22 Desember 2023 - 21:35

Melihat Upaya PT CPM Menunaikan Tanggung Jawab Sosialnya di Wilayah Lingkar Tambang; Pendidikan hingga Kesehatan

25 November 2023 - 00:10

Persipal BU Tak Lagi Dilatih Bambang Nurdiansyah, Kok?

21 November 2023 - 19:15

Kronologi hingga Dugaan Penyebab Seorang Atlet Kecelakaan Saat Kejuaraan Paralayang PSE

19 November 2023 - 15:14

Angka Perkawinan Anak di Sulteng Urutan Kelima Tertinggi se-Indonesia, Yuk Simak Bahayanya

6 November 2023 - 22:58

Trending di Health